Example 728x250
ReligiusSamarinda

Sahur Kesembilan di Tanah Rantau, Jasman Temukan Makna Ramadan dalam Kesederhanaan

124
×

Sahur Kesembilan di Tanah Rantau, Jasman Temukan Makna Ramadan dalam Kesederhanaan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Readkaltim.com, Samarinda – Fajar pertama Ramadan tahun ini datang dengan rasa yang tak biasa bagi Jasman. Mahasiswa Semester 4 Jurusan Ilmu Lingkungan, Fakultas Pascasarjana Universitas Mulawarman itu kembali menyambut sahur di kamar kosnya di Samarinda. Bagi pemuda kelahiran Diha, 01 Juli 1998, yang berasal dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Ramadan kali ini menjadi yang kesembilan kalinya ia jalani di tanah perantauan.

“Alhamdulillah tentunya campur aduk si, ada rasa senang karena bisa ketemu Ramadhan lagi, tapi juga ada rasa kangen rumah, apalagi ini ke 9 kalinya udah saya menjalani puasa di perantauan (Samarinda),” tuturnya pelan. Ada jeda di antara kalimatnya, seolah menyimpan rindu yang tak sepenuhnya terucap. Ramadan baginya bukan sekadar ibadah tahunan, melainkan perjalanan batin yang terus bertumbuh seiring waktu.

Sahur pertamanya tahun ini dijalani dengan sederhana. Nasi hangat, telur dadar, dan sayur sop ia masak sendiri bersama beberapa teman kos demi menghemat pengeluaran. Sementara saat berbuka, ia membeli takjil di sekitar kampus—es buah dan gorengan—sebelum kembali ke kos untuk menyantap nasi. Kesederhanaan itu justru menghadirkan rasa syukur yang lebih dalam.

Namun, suasana Ramadan di rantau jelas berbeda dibandingkan di kampung halaman. Di Bima, hari pertama puasa identik dengan kebersamaan keluarga dan masakan ibu. “Tentunya sangat berbeda apalagi suasananya. Kalau di rumah biasanya lebih ramai dan hangat karena kumpul keluarga. Kemudian di perantauan ini lebih tenang, jadi harus pintar-pintar cari suasana biar tetap nyaman di perantauan hehehe,” katanya dengan nada ringan.

Ia mengenang sayur bening daun kelor yang hampir selalu hadir di meja makan rumahnya, lengkap dengan sambal khas Bima dan ikan asin. Menu sederhana itu menjadi simbol kehangatan keluarga. Ketika rindu datang, Jasman biasanya melakukan panggilan video dengan orang tua menjelang berbuka atau mencari sendiri bahan-bahan di pasar untuk sedikit menghadirkan rasa kampung halaman.

Sebagai anak rantau, persiapan Ramadan tak pernah berlebihan. Ia mengaku hanya membeli beras sebagai stok utama. “Pada umumnya laki-laki saja si, biasanya tidak pernah beli stok makanan, hanya beras aja wkwk,” ujarnya berseloroh. Beruntung, di hari pertama puasa ini ia tak lagi memiliki jadwal kuliah sehingga bisa menjalani ibadah dengan lebih tenang.

Sore sebelum Ramadan, ia sudah melakukan panggilan video dengan orang tuanya. Pesan mereka sederhana namun penuh makna: menjaga kesehatan, tidak melewatkan sahur, dan tetap rajin beribadah meski jauh dari rumah. Ke depan, ia berencana berbuka puasa bersama teman sekelas sekaligus pembubaran panitia Seminar Nasional Lingkungan. Meski rindu kampung halaman, ia belum berani pulang saat Lebaran karena perkuliahan belum usai.

Di tengah jarak dan kesibukan akademik, Jasman menargetkan diri untuk lebih konsisten beribadah dan setidaknya mengkhatamkan Al-Qur’an sekali selama Ramadan. Ia pun menitipkan pesan bagi sesama perantau, “Tetap semangat dan jaga kesehatan. Walaupun jauh dari keluarga, Ramadan tetap bisa jadi momen memperbaiki diri. Jangan lupa saling dukung sesama anak rantau supaya suasana tetap hangat.”

Di kamar kos yang sederhana itu, Ramadan kembali bersemi bukan dengan gemerlap, melainkan dengan ketulusan dan harapan yang tumbuh perlahan.

Example 120x600