READKALTIM.COM, SAMARINDA – Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan dan referensi. Kondisi ini mendorong perpustakaan untuk beradaptasi agar tetap menjadi pusat literasi yang relevan di tengah derasnya arus digitalisasi.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, menilai transformasi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pengelola perpustakaan. Menurutnya, akses informasi yang semakin mudah melalui internet telah mengubah kebiasaan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mencari sumber belajar.
Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Perpustakaan, Anhar menegaskan bahwa perpustakaan tidak lagi dapat mengandalkan konsep konvensional semata. Kehadiran teknologi digital telah menggeser pola pencarian informasi yang sebelumnya berpusat pada ruang baca fisik.
“Sekarang dengan kecanggihan dunia digital, perpustakaan justru sudah ada di genggaman. Semua informasi bisa diakses lewat internet,” ungkap Anhar, Senin (18/05/2026).
Ia menjelaskan, perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi berlangsung sangat cepat. Jika sebelumnya masyarakat harus mendatangi perpustakaan untuk mencari buku atau data tertentu, kini berbagai kebutuhan referensi dapat dipenuhi melalui platform digital dan mesin pencari.
Menurut Anhar, kemudahan akses tersebut membuka peluang lebih besar bagi masyarakat untuk meningkatkan minat baca dan memperluas wawasan. Ia menilai perkembangan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat budaya literasi, bukan dipandang sebagai ancaman bagi keberadaan perpustakaan.
“Mau cari buku tokoh seperti Tan Malaka, atau membaca sejarah dunia, sekarang tinggal buka Google. Semuanya sudah tersedia,” tambahnya.
Karena itu, Anhar mendorong pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan pengelolaan perpustakaan dengan kebutuhan masyarakat modern. Digitalisasi layanan perpustakaan dinilai menjadi langkah strategis agar institusi tersebut tetap mampu menjangkau pengguna dari berbagai kalangan.
“Yang jelas kita tidak bisa lagi berpikir perpustakaan hanya tempat datang lalu baca buku. Sekarang mahasiswa buat makalah, skripsi, atau artikel, semuanya sudah banyak mengandalkan akses digital,” tandasnya.
Ia berharap transformasi digital tidak menghilangkan peran utama perpustakaan sebagai pusat edukasi dan pengembangan wawasan masyarakat. Sebaliknya, perpustakaan perlu terus berinovasi agar menjadi ruang literasi yang lebih modern, mudah diakses, serta mampu menjawab kebutuhan generasi masa kini.(RR)





